Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan

Cara Cepat Membuat Pleci Buka Paruh dan Ngeroll

Senang rasanya memiliki burung Pleci atau Kacamata bisa buka paruh ditambah ngeroll. Namun untuk mendapatkan burung yang seperti itu akan mahal harganya. Nah bagaimana kalau kita mencoba tips dari Kukuhlonyod yaitu Cara Cepat Membuat Pleci Buka Paruh dan Ngeroll.


Pertama dan wajib adalah anda harus mempunyai burung pleci jantan terlebih dahulu, hehehe... kalau belum punya silahkan beli di pasar burung yang diombyokan karena harga lebih murah, tapi harus yang jantan ya memilihnya.

Oke langsung kita praktekkan cara agar pleci mau buka paruh dan ngeroll. Pertama adalah hentikan dahulu pemberian makanan voer dan buah. Selama proses pemberhentian makanan tersebut anda bisa memberikan ulet kandang (bukan ulat hongkong) kurang lebih 1/2 wadah kecil/cepuk, kasih susu kental manis pada siang harinya. Jemur Pleci dari jam 5 pagi sampai jam 1 siang. Setelah penjemuran maka lakukan proses pemasteran. Nah ini kuncinya, kalau biasanya para kicau mania memaster burung pleci pada malam hari dengan suara yang lirih/volume kecil, maka sekarang lakukanlah pemasteran setelah penjemuran dan gunakan volume yang keras atau kalau bisa gunakan speaker yang besar biar power juga gede, lakukan minimal 1jam. Kalau belum punya suara master silahkan download suara-suara master untuk pleci.

Pada malam hari biarkan pleci tanpa kerodong dan usahakan gantung ditempat yang tinggi. Jika pleci sudah bisa buka paruh dan mau ngeroll maka ubahlah menu makanan dengan buah pisang, susu (untuk siang hari), madu (untuk malam hari), ulet kandang 1 sendok teh. Itulah sedikit tips cara cepat membuat pleci buka paruh dan ngeroll.

Tips Melatih Mental Burung Cucak Ijo

Pelatihan mental burung cucak ijo memang sangat penting dilakukan, kenapa? Karena burung yang mentalnya tidak baik, hanya akan mengeluarkan kicauannya saat sedang sendiri atau kondisi sekitar sepi. Jadi disaat ada orang di dekatnya maka sang burung akan diam seribu bahasa. Kondisi seperti ini tentu tidak kita harapkan, apalagi jika tujuan memelihara burung cucak ijo karena ingin di ikut sertakan dalam perlombaan.


Burung cucak ijo memang dikenal sebagai jenis burung yang sulit untuk dijinakkan, apalagi jika burung tersebut hasil dari tangkapan hutan. Akan tetapi ada nilai lebih dari burung yang berprilaku giras dan agresif yaitu umumnya akan mengeluarkan suara yang keras dan lepas, berbeda dengan burung yang jinak karena dirawat dari piyik. Akan tetapi suara keras pada burung akan lebih baik jika dibarengi dengan kondisi mental yang bagus. Hal inilah yang juga perlu diperhatikan para pemelihara.

Bagaimana Cara Melatih Mental Cucak Ijo
Burung berkicau yang memiliki mental bagus tentu akan mempermudah kita untuk melatihnya. Kondisi mental yang baik juga tidak akan mempengaruhi perilaku burung meskipun suasana sekitar dalam keadaan ramai dan bising. Lain halnya dengan burung yang bermental tidak baik, mereka akan mudah sekali terpengaruh dengan keadaan sekitarnya. Meskipun burung yang bermental tidak baik memiliki suara yang keras dan irama yang bervariasi, kemungkinan besar akan membisu saat lingkungan sekitar ramai. Kondisi burung yang seperti ini tentu akan tidak baik untuk di ikutkan dalam perlombaan.

Untuk memperbaiki mental cucak ijo maka diperlukan pelatihan, antara lain yang bisa dilakukan untuk melatih kekuatan mentalnya adalah:

Sering lakukan penggantian sangkar (bertujuan agar burung terbiasa dengan suasana baru)
Memindah-mindahkan tempat gantangan (untuk membiasakan perubahan kondisi lingkungan)
Gantang di tempat ramai (agar burung tidak takut keramaian)
Bawa ke tempat latihan (agar burung terbiasa bersama dengan burung lainnya)
Perdengarkan suara burung cucak ijo jantan lainnya (selain bermanfaat untuk memancing bunyi juga bisa membuat mental burung bertambah)

Itulah cara yang perlu dilakukan untuk melatih mental burung cucak ijo, jangan lupa untuk melakukan perawatan lainnya seperti mandi dan penjemuran setiap hari.

Enam langkah mengamankan Murai Batu di musim hujan


Salah satu penyakit yang sering muncul di musim hujan adalah pilek. Bagaimana tindak pencegahan dan pengobatannya, silakan lihat kembali artikelnya.
Namun yang lebih berbahaya lagi adalah ancaman penyakit tetelo pada unggas. Serangan penyakit ini bisa terjadi pada ayam, itik, dan burung. Jenis burung yang bisa terserang sangat beragam, meski yang paling sering adalah perkutut, merpati, murai batu, dan kacer.
Nah, khusus tetelo pada murai batu.
Yang menarik adalah artikel kedua, soal tetelo yang biasa menyerang nirimh setiap dua tahun sekali. Hal ini berdasarkan pernyataan Om Tony Alamsyah, alias Tony Black, yang juga pengelola SapuRegel Team Cilacap. Kebetulan dia juga penangkar murai batu, dan selalu menjumpai fakta murai batunya sering terkena tetelo pada tahun genap.
Kasus terakhir dialaminya sepanjang Januari – Maret 2012. Itu berarti, Januari – Maret 2014 menjadi bulan kewaspadaan bagi para penangkar maupun pemilik murai batu. Meski Om Kicau tidak sepakat seratus persen, karena wabah tetelo dapat terjadi kapan pun, tidak ada salahnya kita meningkatkan kewaspadaan tersebut.
Om Syamsul Saputro, owner SKL Bird Farm, juga meminta kewaspadaan para penangkar dan pemilik murai batu terhadap ancaman tetelo, khususnya pada musim hujan. “Selain tetelo, penyakit lainnya yang perlu diwaspadai selama musim hujan adalah serak atau radang pada saluran pernafasan murai batu,” kata dia.
Gejala-gejala yang terlihat, tambah Om Syamsul, suara cetreken mengecil, bahkan jika telat ditangani bisa hilang sama sekali. “Dalam hitungan hari saja, si burung akan mati dengan mengeluarkan darah dari mulutnya,” jelas Om Syamsul.
Berdasarkan pengalaman Tim SKL Bird Farm selama ini, sedikitnya ada enam langkah preventif untuk mengamankan murai batu dari kemungkinan terserang pilek, tetelo, maupun radang pada saluran pernafasannya. Berikut ini rinciannya :

1. Jangan risih jika tak menjemur murai

Banyak penggemar murai batu yang menganggap bahwa penjemuran burung selama berjam-jam itu bersifat kudu alias wajib. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat. Di alam liar, tidak pernah ada murai batu yang berpanas ria hingga lebih dari 1 jam, paling banter hanya 10-15 menit.
Kalau selama ini kita terbiasa menjemur burung 1 – 2 jam setiap hari, itu sebenarnya dalam konteks perawatan burung lomba. Untuk apa? Karena pada masa lalu, sebagian besar lomba burung berkicau belum menggunakan paddock lomba yang memiliki atap seperti saat ini.
Akibatnya, burung lomba yang tidak dibiasakan dijemur cenderung megap-megap saat bertarung di lapangan terbuka. Bahkan beberapa lapangan yang sudah beratap pun saat ini menggunakan bahan tembus pandang, sehingga sengatan matahari akan menerpa sangkar burung-burung yang berlaga.


Masalah penjemuran burung yang khas Indonesia ini pernah menjadi bahasan pada beberapa forum burung di negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura. Analisis mereka, termasuk dari Om David de Souza, umumnya ya seperti yang ditulis Om Kicau di atas.
Di Malaysia dan Singapura, sebagian lomba burung diadakan di teras bangunan, dan sebagian lagi di dalam gedung. Itu sebabnya, mereka umumnya hanya menjemur burung selama 10-15 menit setiap harinya, sekadar memperoleh provitamin D dari sinar matahari pagi, sebagai komponen utama bagi sistem pencernaan burung untuk mengolah kalsium.
Meski demikian, kebiasaan menjemur burung yang sudah ada di Indonesia tak perlu diubah. Namun, ketika musim hujan tiba, dan kondisi cuaca sedang tidak menentu, burung jangan dipaksakan untuk berjemur.
Istilah Om Syamsul Saputro, jangan risih jika Anda tak menjemur murai batu, meski selama beberapa hari, jika kondisi cuaca memang tidak mendukung. “Lebih baik burung tidak dijemur daripada risiko yang diterima sangat tinggi, seperti radang pada saluran pernafasan,” kata Om Syamsul.

2. Jika mau menjemur, pantau embusan angin

Kalau cuaca tidak mendung dan Anda ingin menjemur murai, sebaiknya pantau atau perhatikan dulu embusan angin. Apabila embusan angin terlalu kencang, lebih baik burung cukup diangin-anginkan di dalam rumah saja.
Caranya, burung digantang di dalam rumah (bukan di teras rumah). Jika waktu masih pagi, kerodong boleh dibuka full hingga siang hari.
Selebihnya,  jika angin terlalu kencang, sejak siang hingga malam burung sebaiknya dikerodong saja. Kerodong boleh dibuka sebentar pada sore hari, ketika memberi jangkrik, menambah voer, maupun menambah air minum.

Bisa juga disiasati dengan menggantung burung di dalam rumah, tetapi bagian atapnya tembus pandang seperti gambar di bawah ini:


3. Selalu awas dengan “permainan” matahari

He.. he.. sebenarnya matahari tidak pernah bermain-main. Dia akan tetap bersinar dengan intensitas yang sama. Hanya saja, sinar matahari yang sampai ke rumah kita memiliki intensitas berbeda-beda, tergantung faktor alam seperti jumlah awan, ketebalan awan, hujan atau tidak, dan sebagainya.
Jangan terkecoh dengan sinar matahari yang datang tiba-tiba pada pagi hari, setelah sebelumnya tertutup awan mendung tebal. Begitu melihat sinar matahari mulai terasa hangat, biasanya kita atau perawat burung langsung sumringah dan ingin segera menjemur burungnya.
Karena itu, sebaiknya tunggu beberapa saat sambil selalu memperhatikan kondisi cuaca. Kalau sinar matahari tidak lagi terhalang awan mendung, dan angin sudah tidak terlalu kencang, bolehlah mulai melakukan penjemuran. Pastikan selalu ada orang yang siaga, jika sewaktu-waktu muncul embusan angin kencang atau bahkan cuaca tiba-tiba mendung dan turun hujan.

4. Jangan memaksakan murai harus mandi


Mandi merupakan salah satu aktivitas yang menyegarkan bagi burung kicauan. Tetapi selama musim hujan, sebagian burung tidak mau mandi. Misalnya, ketika dimasukkan karamba, dia tak mau segera nyemplung.
Sebenarnya ini merupakan isyarat bahwa burung sedang tidak ingin mandi. Sebab yang bisa merasa fit dan tidaknya kondisi burung adalah burung itu sendiri, bukan pemiliknya.
Karena itu, jika melihat burung tak mau mandi pada musim hujan, sebaiknya jangan dipaksa agar dia mau mandi. Misalnya dengan menyemprotnya menggunakan air dari sprayer, untuk memancingnya agar mau nyemplung di karamba.
Burung sebenarnya memiliki naluri kapan waktunya mandi, atau kapan dia memerlukan mandi. Jadi, jangan disamakan dengan manusia yang setiap hari harus mandi agar badannya tidak bau, he.. he…

5. Menjaga kebersihan sangkar dan aksesorisnya

Frekuensi pembersihan sangkar, khususnya membersihkan kotoran burung, memang berbeda-beda antara kicaumania yang satu dan yang lainnya. Namun selama musim hujan, sebaiknya pembersihan sangkar dilakukan setiap hari.

Sebab agen penyakit, terutama bakteri, jamur, parasit (tungau, cacing, kutu), mudah sekali masuk melalui kotoran burung, terlebih di musim hujan. Adapun agen penyakit seperti virus umumnya bergerak melalui udara.


Untuk air minum, Om Syamsul menyarankan penggantian dapat dilakukan minimal dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. “Kalau voer boleh diganti tiga hari sekali,” ujarnya.
Yang tidak kalah penting, kerodong sebaiknya digunakan paling lama hanya seminggu. Setelah itu mesti dicuci hingga bersih dan steril. Sambil menunggu kering, Anda bisa memakai kerodong yang lain.
Seminggu sekali, sangkar perlu disucihamakan dengan menggunakan desinfektan khusus burung, misalnya FreshAves. Larutkan 5 gram serbuk FreshAves ke dalam 1 liter air bersih, lalu dimasukkan ke sprayer, dan semprot ke seluruh bagian kandang, termasuk celah-celah pada bagian sambungan.
Jangan sepelekan masalah ini. Sebab ketika tetelo dan radang saluran pernafasan sudah menyerang burung, kita acapkali merasa menyesal, dan itu sudah terlambat atau setidaknya memerlukan upaya lebih keras untuk mengobatinya.

6. Jangan sepelekan pula mutivitamin


Masih banyak kicaumania yang menyepelekan multivitamin untuk burung piaraannya. “Ah, burung di alam liar tak pernah pakai multivitamin, toh bisa tumbuh sehat dan rajin bunyi,” begitu pemikiran sebagian kicaumania.
Benar, burung di alam liar tak pernah pakai multivitamin. Tapi perlu diingat! Di alam liar, burung bisa memenuhi kebutuhan gizi / nutrisi berdasarkan naluri dan ketersediaan bahan pakan di alam. Sebab dia sama sekali tak tergantung pada manusia.
Namun jika dipelihara dalam sangkar, semua kebutuhan burung tergantung dari manusia yang setiap hari merawatnya. Bahasa gampangnya, kita bisa membuat seekor burung menjadi kurus dangemuk. Kita bisa membuat burung kecukupan dan kekurangan vitamin.
Multivitamin sangat diperlukan bagi burung untuk mempertahankan mekanisme pertahanan tubuh dari berbagai serangan agen penyakit. Burung yang terbiasa diberi multivitamin seperti BirdVit, 2 – 3 kali seminggu, memiliki kemampuan melawan serangan agen penyakit lebih bagus daripada burung-burung yang sama sekali tidak pernah diberi multivitamin.
“Bagaimana pun burung berkicau termasuk murai batu perlu diberi asupan multivitamin, apalagi kini musim hujan. Biar kondisi fisiknya lebih fit dan tidak mudah sakit,” kata Om Syamsul Saputro.
Itulah enam langkah pengamanan murai batu selama musim hujan berdasarkan pengalaman Tim SKL Bird Farm.
“Jika enam langkah ini sudah dilaksanakan dengan baik, tetapi burung kita tetap terserang penyakit, bahkan sampai tewas, ya.. harus diterima dengan lapang dada. Itulah risiko paling berat jika bermain dengan barang bernyawa,” tambah Om Syamsul.

Semoga bermanfaat.